Sok Nyastra Teh

while there is tea, there is hope
Kemarin-kemarin ditag di tulisan where there is tea, there is love, entah bermutu apalah ini oleh mantan lajang mBandar Imam Fauzi Al Bandary yang masih kinyis-kinyis melepas keperjakaannya. Dia bilang ke ane via whatsapp messenger: “kawin ki penak jebule”. Entah apalah maksudnya ini. Apakah yang dimaksud kian bisa mem-bully kaum jomblo yang belum dapat dientaskan dari garis kejombloannya kah?. Entahlah. Jangan senang dulu mas. Ente baru dalam hitungan hari kawin. Kalau udah tahunan (1 tahun 2 bulan tepatnya) kayak ane baru bilang.. itu ga hanya enak!, tapi luar biasa bonusnya. Alloh memang menjanjikannya, tapi jangan sembrono nagihnya. Bukan begitu ayang Retno Maryam Khodijah ?
Penulis yang konon kabarnya akan menelurkan platform berbasis mBatang dan sekitarnya lewat megono.co (entah jadi entah enggak) ini bertanya ke ane. Ane juga bingung dari mana kalimat (atau kekiniannya disebut quote) where’s tea, there’s love ini berasal. Mungkin karena ane sering lihat muda-mudi blusukan tanpa kenal isin dibawah rindangnya perdu teh. Tapi bukan itu yang penting. Tak raba-raba sendiri, mungkin artinya memang gitu mas. Jadi ingat tulisan di belakang kaos anggota yang kira-kira bunyinya gini (yang ane dramatisasikan): “Di kala dingin menghantui, teh menghangatkanmu. Di saat panas menerpa, teh mendinginkanmu”. Nah, apalagi yang bukan cinta namanya kalau kita bisa mengkondisikan kondisi ga kondusif menjadi kondusif?. Pikirkan lebih dalam jika nggak nyambung. Mungkin tanya Om Bach, dengan penerawangannya dia bisa menerangkan apa yang masih samar-samar kukira.
Sebetulnya ane ga tau pasti, mungkin itu quote latah mas. Di jaman ba-heula, ada aktor seorang English yang namanya Sir Arthur Pinero (1855-1934) pernah bikin quote bagus di Operanya. Itulah “while there is tea, there is hope”. Ane ga ngerti soal ginian sebenarnya. Ane taunya nandur, ngerawat, manen etc. But, teh itu lumayan jadi primadona di Eropa yang masuk sekitar tahun 1610 dan di England 54 tahun sesudahnya. Dan di mBatang sekitar tahun 1899 (ada versi yang bilang 1840) oleh seorang Belanda, E. Blink. Mereka tahu bahwa teh itu komoditas penting. Ga kayak kita yang senang dikasih gratis saat mampir ke banyak warung utawa rumah makan di sekitaran kita. Teh itu berharga. Ditanam pake biaya, dirawat pake biaya, dipetik pake biaya, diminum GRATIS!. “Sakitnya tuh disini!”. Baru bayar saat ada gulanya.
Lanjut cerita, bahkan nampaknya saat Sir Pinero itu belum dipikirkan oleh bapak-mamaknya, telah lahir Lucy Larcom, seorang pujangga Amerika yang bisa jadi lebih dulu nulis senada gitu. Di kalimat pertama saja sudah ada tulisan yang tak kalah makjleb. “He who plants a tree, plants a hope”, itulah kutipan di puisi berjudul “Plant A Tree”. Ane tahu puisi ini saat baca buku Good Tree Nursery Practices, keluaran ICRAF, saat merantau di belantara hutan Riau. Bacaan bagus buat kaum planters ataupun rimbawan.
Kalaupun agak mekso, paling tidak quote “where’s tea, there’s love” bisa kita maknai bahwa teh itu ibarat cinta. Hangatnya menemani kita setiap pagi bersama megono dan tempe goreng. Dua bungkus agar kuat menghadapi pahit getirnya dunia. Bersinergi dengan cinta dari istri dan keluarga. Penyemangat hidup.
Ehm, kelas sastra habis anak-anak. Besok kita lanjut dengan bab lain yang terserah saya.
Btw, kapan kita gathering nge-teh dan megononan, Gaes?
Sumber ilustrasi dari https://en.wikipedia.org/wiki/Java

Comments